HBB ke-425: Jhukung Membelah Laut, Tradisi Tetap Hidup Meski Tanpa Anggaran Panitia

Peristiwa 08 Oct 2026 10:29 • 2 min read • 6 views • By SATRIYA, ST

Share berita ini

HBB ke-425: Jhukung Membelah Laut, Tradisi Tetap Hidup Meski Tanpa Anggaran Panitia
HBB ke-425: Jhukung Membelah Laut, Tradisi Tetap Hidup Meski Tanpa Anggaran Panitia

GRESIK, detikplus62.my.id- Rabu (07/10/2026), permukaan Laut Bawean terbelah dayung. Perahu jhukung melesat, sorak warga menggema dari Pantai Perikanan, dan Hari Besar Bawean (HBB) ke-425 berlangsung semarak. Di tengah perayaan itu, salah satu lomba yang paling dinanti justru berjalan berkat usaha mandiri warga.

 

Lomba dayung jhukung dan panjat pinang menjadi pusat perhatian. Perahu tradisional yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat kepulauan kembali dipertandingkan, bukan sekadar untuk menentukan yang tercepat, melainkan menjaga agar warisan ini tidak hanya menjadi cerita turun-temurun.

 

Namun di balik kemeriahan, ada catatan tersendiri soal pembiayaan. Junaidi dari LSM GMBI KSM Sangkapura, yang bersama anggotanya mengoordinasikan kedua kegiatan tersebut, menyatakan pelaksanaannya tidak menggunakan anggaran dari panitia HBB.

 

“Kegiatan ini murni hasil usaha dan kerja keras kami bersama anggota. Untuk lomba dayung dan panjat pinang, tidak ada anggaran dari panitia HBB. Seluruh kebutuhan kami cari dan upayakan sendiri,” tegas Junaidi.

 

Ia menjelaskan, dalam pembahasan sebelumnya sempat muncul rencana anggaran sekitar Rp10 juta untuk kegiatan tersebut. Namun hingga pelaksanaan, dana itu tidak terealisasi. Kegiatan tetap berjalan, namun dibiayai dari upaya mandiri para pengurus dan relawan.

 

Persaingan di laut tetap berlangsung ketat. Boni dari Dusun Rujing, Desa Sungai Teluk, keluar sebagai juara pertama dengan hadiah Rp1,5 juta. Posisi kedua diraih Didi dari Dusun Sungaitopong, Desa Sungai Teluk, dengan hadiah Rp1 juta.

 

Sementara itu, hadiah juara ketiga yang semula disiapkan sebesar Rp500 ribu dibagikan berbeda dari biasanya. Karena tidak ada penetapan juara ketiga, uang tersebut dibagi rata kepada delapan peserta, masing-masing Rp50 ribu.

 

Bagi Junaidi, yang terpenting bukan besarnya hadiah, melainkan kegiatan tetap dapat diselenggarakan dan dinikmati warga. “Kami berusaha agar masyarakat bisa menikmati kemeriahan HBB. Lomba jhukong ini juga bagian dari menjaga budaya dan tradisi Bawean,” ucapnya.

 

Bagi masyarakat pulau, jhukung bukan sekadar perahu. Ia adalah hubungan panjang warga dengan laut, tentang keberanian, kerja sama, dan pengetahuan yang diwariskan lintas generasi. Di tengah perubahan zaman, jhukung kembali menjadi penanda: kebudayaan bertahan bukan hanya dikenang, melainkan dihidupkan.

 

Junaidi berharap kegiatan serupa tetap berlangsung di HBB mendatang. “Harapan kami, budaya jhukong ini terus dilestarikan. Jangan sampai generasi muda tidak mengenal budaya yang menjadi identitas kita,” pungkasnya.

 

Hari itu, Pantai Perikanan menyaksikan lebih dari sekadar perlombaan. Jhukung membelah ombak, dayung terus menghantam air, dan Bawean menyampaikan pesan sederhana: tradisi tidak cukup diingat, ia harus terus dijalankan. (RED PT. MSR)

DetikPlus62